ID
Fikih Doa dan Zikir
Zikir-zikir Untuk Urusan Mendadak
12 hadiths
Petunjuk Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dalam Berzikir
5
Faedah-faedah Berzikir Pada Allah -'Azza wa Jalla-
8
Zikir Pagi dan Sore
4
Zikir-zikir Umum
5
Doa Masuk dan Keluar Rumah
2
Doa Masuk dan Keluar WC
1
Doa Masuk dan Keluar Masjid
2
Zikir-zikir yang Diucapkan di Waktu-waktu Genting
1
Zikir-zikir Untuk Urusan Mendadak
12
Hukum Doa
1
Adab Berdoa
2
Fator-faktor Terkabul dan Terhalangnya Doa
4
Doa-doa Ma`ṡūr
18
12 hadiths
Dari Abu Musa al-Asy'arī -raḍiyallāhu 'anhu- menuturkan, "Gerhana matahari terjadi di zaman Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Maka beliau bangkit dalam kondisi takut dan khawatir akan datangnya kiamat, hingga beliau tiba di masjid. Beliau berdiri lalu mengerjakan salat dengan berdiri dan sujud yang paling lama, yang mana sebelumnya aku tidak pernah melihat beliau melakukannya dalam salat beliau. Kemudian beliau bersabda, "Sesungguhnya ayat-ayat yang Allah -'Azzā wa Jallā- kirimkan ini terjadi bukan karena kematian atau kehidupan seseorang, akan tetapi Allah mengirimkannya untuk menakut-nakuti para hamba-Nya. Maka apabila kalian melihat sesuatu darinya, bersegeralah berzikir pada Allah, berdoa dan memohon ampunan pada-Nya."
Muttafaq 'alaih
Sulaiman bin Ṣurad -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Aku pernah duduk bersama Nabi ﷺ sementara ada dua orang laki-laki sedang saling caci, wajah salah satunya memerah dan urat-urat lehernya menegang. Lantas Nabi ﷺ bersabda, "Sungguh aku tahu satu kalimat, kalau ia mengucapkannya niscaya kemarahan yang dirasakannya akan hilang. Kalau saja ia mengucapkan: A'ūżu billāhi minasy-syaiṭān (Aku berlindung kepada Allah dari setan), niscaya kemarahan yang dirasakannya akan hilang." Lantas para sahabat berkata kepada orang yang marah tersebut, "Nabi ﷺ bersabda: Berlindunglah kepada Allah dari setan." Dia menjawab, "Apakah aku sedang mengalami gila?"
Muttafaq 'alaih
Dari Abu Umāmah -raḍiyallāhu 'anhuma- bahwa Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- apabila beliau telah mengangkat hidangannya (selesai makan), beliau mengucapkan, "Segala puji hanya milik Allah dengan pujian yang banyak, yang baik lagi penuh dengan keberkahan, tidak ada yang (bisa) mencukupi-Nya, tidak ada yang mampu meninggalkan-Nya, serta tidak ada yang tidak membutuhkan-Nya, wahai Rabb kami."
Diriwayatkan oleh Bukhari
Dari Anas bin Malik -raḍiyallāhu 'anhu-, bahwasanya Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- jika menghampiri tempat tidurnya berdoa (dengan mengucapkan), "Segala puji bagi Allah yang telah memberi kami makan, minum, kecukupan dan perlindungan. Betapa banyak orang yang tidak memiliki kecukupan dan perlindungan."
Diriwayatkan oleh Muslim
Khaulah binti Ḥakīm -raḍiyallāhu 'anhā- meriwayatkan, Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, "Siapa yang singgah di suatu tempat lalu berdoa: 'A'ūżu bikalimātillāhit-tāmmāti min syarri mā khalaq (Aku berlindung pada kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari kejahatan semua mahluk yang Dia ciptakan)', tidak ada sesuatu pun yang akan membahayakannya sampai dia beranjak dari tempatnya itu."
HR. Muslim
Dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhum- secara marfū', "Apabila salah seorang di antara kalian menghampiri kasurnya (untuk tidur -korektor), hendaknya ia mengibaskan kasurnya dengan ujung sarungnya, karena ia tidak tahu apa yang akan terjadi padanya, lalu mengucapkan, "Dengan nama-Mu, wahai Tuhanku, aku rebahkan tubuhku dan dengan nama-Mu aku mengangkatnya. Jika Engkau renggut nyawaku, maka kasihanilah ia. Jika Engkau melepaskannya, maka jagalah ia sebagaimana Engkau menjaga hamba-hamba-Mu yang saleh."
Muttafaq 'alaih
Dari Ṭalḥah bin 'Ubaidillah -raḍiyallāhu 'anhu- bahwa Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- apabila melihat hilal (bulan sabit), beliau berdoa, "Ya Allah! Perlihatkanlah bulan sabit itu kepada kami dengan keamanan, keimanan, keselamatan dan keislaman. Rabbku dan Rabbmu adalah Allah, (jadikanlah dia) sebagai hilal petunjuk dan kebaikan."
Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah - Diriwayatkan oleh Tirmiżi - Diriwayatkan oleh Ahmad - Diriwayatkan oleh Dārimi
Dari Jābir -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, "Apabila kami mendaki maka kami bertakbir dan apabila kami turun maka kami bertasbih." Dari Ibnu Umar -raḍiyallāhu 'anhumā-, ia berkata, "Apabila Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dan tentaranya naik ke bukit-bukit, mereka bertakbir. Apabila mereka turun, mereka bertasbih."
Diriwayatkan oleh Bukhari - Diriwayatkan oleh Abu Daud
Dari Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā-, ia berkata, "Apabila angin bertiup, Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mengucapkan, 'Ya Allah! Sesungguhnya aku meminta kepada-Mu kebaikannya, kebaikan yang terkandung di dalamnya, dan kebaikan tujuan dikirimkannya angin tersebut. Aku berlindung kepada-Mu dari keburukannya, keburukan yang terkandung di dalamnya, dan keburukan tujuan dikirimkannya angin tersebut'."
Diriwayatkan oleh Muslim
Uṡmān bin Abil-'Āṣ -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Dia pernah datang menemui Nabi ﷺ seraya berkata, "Wahai Rasulullah! Setan telah menghalangiku dari salatku dan bacaanku; ia merancukannya padaku." Maka Rasulullah ﷺ bersabda, "Itu adalah setan yang disebut Khinzab. Apabila engkau merasakannya, maka berlindunglah kepada Allah dan meludahlah ke sebelah kirimu tiga kali." Lantas aku melakukannya, maka Allah menghilangkannya dariku.
HR. Muslim
عن ابن عمر قال: كان رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا أفطر قال: "ذهب الظمأُ، وابتلت العروق، وثبت الأجر إن شاء الله".
رواه أبو داود
Dari Anas bin Malik Radhiyallahu Anhu, Nabi ﷺ bersabda : "Jangan salah seorang diantara kamu berangan-angan kematian karena kesusahan yang menimpanya. Kalau memang harus dilakukan, hendaknya dia berdoa ‘Ya Allah hidupkan diriku selagi kehidupan itu baik bagi diriku. Dan wafatkan diriku selagi kematian itu baik bagi diriku.” HR Bukhari dan Muslim