Hadith for the World
Topic

Fikih dan Uṣūl Fikih

288 hadiths

288 hadiths

Ibnu 'Abbās -raḍiyallāhu 'anhumā- meriwayatkan, Pada saat Nabi ﷺ (duduk) di antara dua sujud, beliau mengucapkan, "Allāhummagfirlī, warḥamnī, wa 'āfinī, wahdinī, warzuqnī (Ya Allah, ampunilah aku, berilah aku rahmat, selamatkanlah aku, tunjukilah aku dan anugerahkanlah rezeki kepadaku)."HR. Abu Daud, Tirmizi, Ibnu Majah, dan Ahmad
Dari Anas bin Malik -raḍiyallāhu 'anhu-, "Bahwasanya Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- tidak pernah melakukan qunut kecuali mendoakan selamat untuk suatu kaum atau mendoakan celaka atas suatu kaum."Diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah
Ṡaubān -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Apabila Rasulullah ﷺ telah bersalam dari salatnya, beliau beristigfar tiga kali lalu membaca, "Allāhumma antas-salām wa minkas-salām, tabārakta yā żal-jalāli wal-ikrām (Ya Allah, Engkaulah pemilik keselamatan, dari-Mu keselamatan, Mahamulia Engkau, wahai pemilik keagungan dan kebaikan)." Al-Walīd mengisahkan: Aku bertanya kepada Al-Auzā'iy, "Bagaimana cara beristigfar?" Beliau menjawab, "Yaitu engkau membaca, 'Astagfirullāh, astagfirullāh.'"HR. Muslim
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Rasulullah ﷺ bersabda, "Siapa yang bertasbih sebanyak 33 kali, bertahmid sebanyak 33 kali, dan bertakbir sebanyak 33 kali setelah selesai salat, semuanya berjumlah 99 kali, lalu menggenapkannya 100 dengan membaca: 'Lā ilāha illallāh waḥdahu lā syarīka lahu, lahul-mulku wa lahul-ḥamdu wa huwa 'alā kulli syai`in qadīr (artinya: Tiada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, semua kerajaan dan segala pujian hanya milik-Nya, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu)', maka akan diampuni dosa-dosanya walaupun sebanyak buih di lautan."HR. Muslim
Abu Umāmah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Rasulullah ﷺ bersabda, "Siapa yang membaca ayat Kursi di penghujung setiap salat wajib, maka tak ada penghalang antara dirinya dan masuk surga selain kematian."HR. Nasai dalam Al-Kubrā
'Imrān bin Ḥuṣain -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Aku menderita penyakit wasir, lalu aku bertanya kepada Nabi ﷺ mengenai salat, maka beliau bersabda, "Salatlah dengan berdiri. Jika tidak mampu, maka dengan duduk. Jika tidak mampu juga, maka dengan berbaring."HR. Bukhari
Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- berkata, "Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- pernah melakukan qiamulail dengan satu ayat Al-Qur`ān sepanjang malam."Diriwayatkan oleh Tirmiżi
Abu Sa'īd Al-Khudriy -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Rasulullah ﷺ bersabda, "Jika salah seorang kalian ragu dalam salatnya, sehingga tidak mengetahui sudah berapa rakaat yang telah dia kerjakan; tiga ataukah empat, maka buanglah keraguan itu dan berpatokan pada yang dia yakini (yaitu tiga rakaat), kemudian sujud dua kali (sujud sahwi) sebelum salam. Jika ternyata dia telah melakukan lima rakaat, maka sujud sahwi itulah yang menggenapkannya. Namun, jika dia benar-benar salat empat rakaat, maka sujud sahwi itu menghinakan setan."HR. Muslim
Dari Abu Rāfi' "Bahwasanya Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- pernah membacakan untuk mereka, "Iżās samā`un syaqqat" (Al-Insyiqāq), lalu dia sujud (tilawah). Setelah selesai, ia memberitahu mereka bahwa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- sujud tilawah ketika membaca surat ini."Muttafaq 'alaih
Dari Abu Bakrah, dari Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-bahwasannya, "Apabila beliau mendapatkan hal yang menggembirakan atau kabar gembira, beliau pun bersujud untuk bersyukur kepada Allah."Diriwayatkan oleh Ibnu Mājah - Diriwayatkan oleh Tirmiżi - Diriwayatkan oleh Abu Daud - Diriwayatkan oleh Ahmad
Dari Ḥafṣah -raḍiyallāhu 'anhā-, "Bahwasanya Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- biasa salat dua rakaat ringan setelah fajar menyingsing." Dalam riwayat lain, "...sebelum iqamat Subuh dikumandangkan."Diriwayatkan oleh Bukhari
Ummul Mukminin Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- meriwayatkan, "Nabi Muhammad ﷺ tidak pernah meninggalkan salat empat rakaat sebelum Zuhur dan dua rakaat sebelum Subuh."HR. Bukhari
Ummu Ḥabībah -raḍiyallāhu 'anhā-, istri Nabi ﷺ, meriwayatkan, Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, "Siapa yang menjaga salat sunah empat rakaat (dua kali salam) sebelum Zuhur dan empat rakaat sesudahnya, maka Allah mengharamkannya masuk neraka."HR. Abu Daud, Tirmizi, Nasai, Ibnu Majah, dan Ahmad
Dari Abdullah bin Umar -raḍiyallāhu 'anhumā-, ia berkata, "Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Semoga Allah merahmati seseorang yang melaksanakan salat empat rakaat sebelum Asar."Diriwayatkan oleh Tirmiżi - Diriwayatkan oleh Abu Daud - Diriwayatkan oleh Ahmad
Dari Abdullah bin Mugaffal Al-Muzanī -raḍiyallāhu 'anhumā-, ia berkata, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, “Salatlah kalian sebelum salat Magrib dua rakaat!” Lalu beliau bersabda, “Salatlah kalian dua rakaat sebelum salat Magrib, bagi siapa saja yang mau melakukannya!” Karena beliau khawatir manusia menjadikannya sebagai sunah (muakkadah).Diriwayatkan oleh Bukhari
Dari Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā-, ia berkata, "Apabila muazin telah diam (selesai) dari azan salat fajar, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- berdiri lalu melakukan salat dua rakaat yang ringan (singkat) sebelum salat fajar; setelah fajar tampak jelas. Kemudian beliau berbaring ke arah kanannya sampai muazin mendatangi beliau untuk mengumandangkan ikamah."Muttafaq 'alaih
Abdullah bin Umar -raḍiyallāhu 'anhumā- meriwayatkan, Ada seorang laki-laki bertanya kepada Nabi ﷺ yang kala itu sedang di atas mimbar, "Bagaimana tata cara salat malam?" Beliau menjawab, "Dua rakaat, demi dua rakaat. Jika khawatir akan masuk waktu Subuh, ia salat satu rakaat sebagai witir salatnya." Bahwa beliau pernah bersabda, "Jadikanlah salat terakhir kalian witir", karena Nabi ﷺ memerintahkan hal itu.Muttafaq 'alaih
Dari Ibnu Umar -raḍiyallāhu 'anhumā- dari Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, beliau bersabda, “Salat (sunah) malam dan siang itu dua rakaat dua rakaat."Diriwayatkan oleh Ibnu Mājah - Diriwayatkan oleh Tirmiżi - Diriwayatkan oleh Nasā`i - Diriwayatkan oleh Abu Daud - Diriwayatkan oleh Ahmad
Dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- ia berkata, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, “Sebaik-baik puasa setelah puasa Ramadan adalah puasa pada bulan Allah yaitu Muharram, dan sebaik-baik salat setelah salat wajib adalah salat malam."Diriwayatkan oleh Muslim
Dari Abu Ayyūb Al-Anṣāri -raḍiyallāhu 'anhu-, bahwasanya Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Salat witir itu hak (ditetapkan dalam sunah); barangsiapa mau, ia boleh salat witir tujuh rakaat; barangsiapa mau, ia boleh salat witir lima rakaat; barangsiapa mau, ia boleh salat witir tiga rakaat; barangsiapa mau ia boleh salat witir satu rakaat."Diriwayatkan oleh Ibnu Mājah - Diriwayatkan oleh Nasā`i - Diriwayatkan oleh Abu Daud
Dari Ali -raḍiyallāhu 'anhu- ia berkata, "Witir itu tidak wajib seperti salat fardu, tetapi sunah yang dicontohkan oleh Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-."Diriwayatkan oleh Ibnu Mājah - Diriwayatkan oleh Tirmiżi - Diriwayatkan oleh Nasā`i - Diriwayatkan oleh Ahmad
Dari Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā-, ia berkata, “Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- pernah salat malam tiga belas rakaat termasuk witir dan dua rakaat (salat sunat) fajar.”Muttafaq 'alaih
Dari Abdullah bin 'Amr bin al-'Āṣ -raḍiyallāhu 'anhumā- mengatakan, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda padaku,"Wahai Abdullah, janganlah engkau menjadi seperti fulan! Ia dulu mengerjakan salat malam, lalu meninggallkan salat malam."Muttafaq 'alaih
Dari Ali bin Abi Ṭālib -raḍiyallāhu 'anhu- mengatakan, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Wahai Ahli Al-Qur`ān! Kerjakanlah salat witir. Sesungguhnya Allah itu witir (ganjil), Dia menyukai angka ganjil."Diriwayatkan oleh Ibnu Mājah - Diriwayatkan oleh Tirmiżi - Diriwayatkan oleh Nasā`i - Diriwayatkan oleh Abu Daud - Diriwayatkan oleh Ahmad